Leave a comment

Mudik Ke Kampung

Persiapan

Alhamdulillah, Setelah empat tahun tidak punya kesempatan mudik lebaran di Selayar, 2014 Allah memberikan kesempatan untuk itu. Ini merupakan nikmat dan karunia yang tak terhingga dari Allah. Kebetulan pada 10 terakhir Ramadhan saya ada tukas kerja di Bone dan baru kembali pada tanggal 23 Juli 2014 ke Makassar sehingga tidak punya banyak waktu untuk membuat persiapan mudik. Untuk mengantisipasi hal-hal yang terjadi di perjalanan maka saya pulang pada hari Jumat tanggal 25 Juli.  Mengingat bulan juli perairan selat selayar sudah mulai berombak.

Hari Rabu adik saya Wahyu sudah tiba untuk menjemput kami (saya dan anak saya Yusuf) mudik. Kami lebih memilih mudik dengan menggunakan Motor daripada naik Bus, biar cepat tiba di Pelabuhan Bira Bulukumba. Selain itu setelah sampai di Kampung saya mudah untuk kemana-mana baik itu belanja keperluan di Kota, Silaturrahmi, siarah ke rumah keluarga yang berada di kampung lain ataupun mengunjungi tempat wisata. Mudik kali ini saya ingin ke Kampung Penyu.

Perjalanan 

Jam 6 Pagi koper dan 1 kardus saya bawa ke Perwakilan Bus New Sumber Mas untuk dititip, nanti di Perwakilan Selayar baru saya ambil. Jam 7 saya sudah kembali ke rumah. Saya kasi mandi Yusuf dan bersiap-siap berangkat ke Bira. Sekitar pukul 7.30 kami meninggalkan rumah. Karena ada Yusuf sehingga kecepatan kendaraan hanya rata-rata 60 km/jam. Jarak dari rumah ke Bira sekitar 200 km. Jam 1 siang kami tiba di Pelabuhan Bira.

selayar (135)Pelabuhan dan indahnya pemandangan laut Pantai Bira sudah akan terlihat ketika sudah melewati jalanan menurun dari Bonto bahari. Puluhan kapal nelayan tertambat di pinggiran pantai. Dari jauh air laut nampak tenang, tidak ada ombak sedikitpun. Meskipun Yusuf tertidur di motor saya tetap menikmati indahnya panorama alam pantai itu dari kejauhan. Motor terus melaju menyusuri jalan menurun terus ke arah pelabuhan.

Sepanjang perjalanan dari rumah ke Bira Yusuf tidur. Jalanan sudah bagus, yang rusak hanya di daerah je’neponto sekitar  dua kilo. Kami tiba di Pelabuhan sekitar jam 1 siang. Kapal Feri Kormomolin baru saja merapat di pelabuhan. Satu persatu kendaraan keluar dari kapal itu. Kami tidak bisa langsung ke kapal, harus mengambil tiket terlebih dahulu di pos penjagaan. Untuk menyebrang ke selayar dengan  motor kami membayar Rp 100 ribu untuk 2 penumpang dewasa dan satu anak-anak. Biayanya lebih hemat sebab biaya bensin dari Rumah ke Bira hanya sekitar Rp18 ribu. Dibandingkan jika kami naik bus, selain berdesak desakan karena banyak penumpang yang mau mudik, biaya perorang Rp 130 ribu dan saya setelah sampai di Kampung tidak bisa kemana-mana sebab tidak ada kendaraan yang bisa digunakan dan harus bergantung pada orang lain.

Setelah mendapatkan tiket kapal, kami beristirahan di pondokan bambu yang disediakan para penjual di sekitar pelabuhan. Baru kami duduk di Bale-Bale ada pengumuman dari Sahbandar pelbuhan jika Kapal Fery Kormomolin tidak akan ke selayar lagi jadi harus menunggu kapal Fery yang lain yang sementara berlayar dari Pelabuhan Pammatata Selayar menuju Bira Bulukumba. Sambil menunggu Fery datang, kami buka bekal yang kami bawa dari rumah. Nasi Putih dan beberapa butir telur ayam yang sudah di rebus. ini makanan kesukaannya Yusuf. Yusuf sangat senang, dia pun makan. Belum habis makanan yang di boksnya, tiba-tiba ada pengumuman lagi dari petugas pelabuhan kalau Kapal fery Kormomolin jadi di berangkatkan ke selayar, mengingat banyaknya penumpang. Kamipun buru-buru berkemas. Boks nasi ditutup, air mineral dimasukkan di tas dan memasangkan kaos kaki dan sepatunya yusuf. Kemudian menuju parkiran motor. Ada ratusan kendaraan roda dua, kami ikut antri dan Alhamdulillah kami berada di urutan ke lima sehingga tidak terlalu lama menunggu.

Panjang pelabuhan Bira hanya sekitar seratus meter, sehingga meskipun terik matahari tidak terlalu terasa. Motor Naik di Kapal, saya dan Yusuf naik ke lantai 2 mencari tempat istirahat, sementara adikku memarkir motor di tempat yang telah disediakan. Alhamdulillah, kami mendapat tempat. Masih ada tempat tidur kosong. Saya setiap naik di Kapal Fery saya selalu mengambil tempat duduk di Executive Class, tetapi kapal Kormomolin Executive Classnya berbeda dengan kapal KM Bontoharu atau Sangke Pallangga dimana berupa tempat duduk panjang yang bisa kita gunakan sebagai sofa. Kormomolin memiliki puluhan tempat tidur. Meskipun tempat tidurnya sederhana, terbuat dari kayu tetapi kasurnya empuk.

Setelah menyimpan tas dan beberapa barang bawaan, Sepatu dan kaos kaki di buka. Yusuf melanjutkan makanannya yang sempat tertunda di darat. Selesai Yusuf makan, saya baring sementara yusuf masih melihat pemandangan air laut dari jendela kapal. Adikku memilih duduk di kelas ekonomi. Sekitar 15 menit menunggu Kapal mulai berlayar. Yusuf pun ikut tidur di dekatku. Selama perjalanan kondisi lau sangat bagus, jikapun ombak itu tidak terlalu berarti. Tak lama setelah kapal berlyar petugas datang, kamipun membayar Rp 10 ribu , ini untuk sewa tempat. Kalau di kelas ekonomi tidak ada pembayaran. Saya dan Yusuf pun tidur, dan saya baru bangun ketika sudah sampai di pelabuhan Pammatata. Para penumpang sudah bergegas turun, saya masih tetap duduk di tempat, Yusuf  masih tidur pulas. Saya pun membangunkannya dan Alhamdulillah saya senang sebab Yusuf tidak mabuk di laut. Kami tiba di pammatata sekitar pukul setengah empat. Kamipun melanjutkan perjalanan darat dari Pammatata menuju Kampung, dengan jarak sekitar 54 km.

Singgah di Bone Lohe

Kami singgah di Bonelohe. Disana saya menemui orang tua angkatku dan juga saudaraku. Mereka berdua sangat senang dan gembira menerima kehadiran kami. Selain Mama dan papa, juga ada Kak Anchi dan suaminya Kak Andi Makmur. Di Bone Lohe kami sekitar 1 jam. Sebelum lanjut ke kampung, saya berziarah ke Istana saudaraku di Taman Faisal. Saat kembali ke rumah mama, mama sudah menyiapkan pa’buka. waktu sudah setengah enam, namun karena buru-buru agar tidak terlalu malam di perjalanan kami tidak bisa tinggal untuk buka puasa di rumahnya mama di Bone Lohe. Kami pun pamit. Perjalanan masih jauh masih sekitar 40 kilo lebih. Satu persatu kampung kami lewati. Jalan menuju Kota Benteng sudah di butas, tidak ada lagi lobang di mana-mana seperti beberapa tahun lalu. Kami buka puasa di Kampung Barugayya, hanya minum air putih.

selayar (2)Motor terus melaju. Di Appa’ Batu kami belok kiri, terus melewati kampung Cini’mabela, Kilo appa, Tana tappu, Kampung paccendolang, kampung Pinang-Pinang. di Piang-pingan kami belok kanan menuju Kampung Pakkopiang dimana rumah kedua orang tua saya. Begitu memasuki kampung, nampak suasana berubah. di sepanjang jalan di depan rumah warga terdapat pohon Bito’ (berupa kacang-kacangan untuk sayur). Mesjid juga nampak berubah.

Rumah-rumah penduduk sudah terang  tanpa deru mesin generator seperti tahun 2010 saat  terakir saya pulang kampung. Kini penduduk di Kampung Pakkopiang sudah menggunakan Listrik PLN. Jam 7 lewat kami tiba di rumah. Mama dan Papa menyambut kami dengan suka cita. kemakan saya Wahyu, Ayu dan Raihan serta adik saya Maya dan suaminya juga ada. Begitu juga Om Usman saudara mama tidak ketingggalan menyambut kehadiran kami. Mama dan adik saya menyiapkan makan malam dan kamipun makan bersama. setelah makan kami memisahkan bunga cengkeh dari tangkainya. Cengkeh ini baru dipetik Papa di kebun. Setelah selali baru kami istirahat.

Advertisements

Tulis Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: