Leave a comment

Indonesiaku Sayang Indonesiaku Malang (1)

Tanah airku Indonesia

Negeri Elok Amat Kucinta

Tanah Tumpah Darahku Yang Mulia

Yang Kupuja Spanjang Masa…..

Sejak kecil, kalau tidak salah saat itu umur saya sekitar 6 tahun, saya senang menyanyikan lagu ini. Pertama kali saya mengenal lagu ini dari Bapak. Dia selalu menyanyikan lagu ini ketika kami berjalan menuju kebun, atau melakukan aktifitas lainnya bersama-sama. Sampai suatu hari aku bertanya kepada Bapak, kenapa dia sering menyanyikan lagu ini. Dengan senyum khasnya, Bapak menjelaskannya padaku.

“Lagu ini mengandung makna yang sangat dalam, bukan hanya jiwa nasionalisme tetapi pencipta lagu ini menyampaikan kepada kita semua masyarakat Indonesia bahwa kita patut bersyukur dan bangga lahir di Indonesia. Sebab negeri kita ini sangat indah”

Indah? seperti gunung ya Pak?

“Nak, Indahnya gunung hanya sebagian kecil dari keelokan dan keindahan negeri ini. Negeri kita ini, membentang dari Sabang sampai marauke, memiliki banyak pulau yang dikelilingi lautan,”

Berarti selain banyak gunung, Hutan, Hewan, juga banyak Ikannya ya Pak?

“Baaanyak sekali nak,…..” Bapak menjelaskannya panjang lebar sambil mengerjakan pekerjaannya. Sejak saat itu saya sering menyanyikan lagu ini, entah itu bersama Bapak, ataupun hanya sendirian. Sampai sekarang saya masih sering menyanyikan lagu ini. Lagu ini sering menemani perjalananku saat pulang kerja, melintasi jalan Hertasning Makassar yang panjangnya 6 KM.

Bebek

Puluhan bebek berenang di areal persawahan

Sejak 2007 sampai saat ini saya melihat begitu banyak perubahan di sepanjang jalan ini. Dulu hampir sepanjang jalan saya bisa melihat para petani membajak sawah, tetapi kini  tinggal 5 persen saja. Hampir semua berubah menjadi gundukan Batu Bata yang indah menurut para kontraktor atau para pemuja Kota Metropolitan. Namun bagi saya ini tidak ubahnya adalah pengrusakan alam yang suatu saat nanti akan berdampak buruk pada manusia.

Sepanjang kiri kanan jalan Hertasning baru adalah tanah persawahan. Artinya ketika musim hujan tiba, maka daerah ini merupakan salah satu area yang dapat menampung air hujan. sehingga daerah sekitarnya tidak akan ada genangan air berjam-jam atau berhari-hari. Namun dengan alasan pembangunan, untuk memperindah Kota baik itu Makassar maupun Gowa, daerah persawahan ini dijual dan dibeli oleh para pemilik modal/Investor. Lahan ini pun kemudian ditimbun. Tanah timbunan diambil dari pegunungan yang ada di daerah Malino. Gunung dikeruk untuk diambil tanahnya untuk menimbun lahan persawahan yang akan diganti dengan bangunan tinggi.

Allah menciptakan Gunung, Dataran Rendah, Lembah dan ngarai itu semua ada manfaatnya. dan Allah yang lebih tahu akan apa yang diciptakanNya. Namun Manusia yang katanya memiliki ilmu pengetahuan tinggi, gelar yang tinggi, datang meratakan gunung dan menimbun dataran rendah seperti persawahan, dengan alasan pembangunan. Sungguh mereka tidak memiliki KETAKUTAN sedikitpun akan Malapetaka yang akan terjadi akibat perbuatannya.

Saya melihat bahwa areal ini akan lebih bermanfaat secara ummat ketika dia tetap menjadi sawah. Sebab, para petani tetap bisa memanen padinya setiap waktu, dan semua masyarakat juga bisa merasakan manfaatnya. Tetapi ketika lahan ini sudah berubah menjadi perumahan, bangunan elite, maka yang bisa menikmati hasilnya hanyalah para konglomerat ataupun para pengusaha, yang jumlahnya sangat sedikit dibanding masyarakat biasa….

Melihat perkembangan pembangunan di sepanjang jalan Hertasning ini, saya melihat bahwa paling lam 10 tahun ke depan, daerah ini akan dipenuhi dengan bangunan mewah. perumahan mewah. Dengan timbunan yang tinggi, pada awalnya mungkin tidak akan banjir, tetapi kita akan berjalan ke depan. ketika semua seudah penuh dengan bangunan, dan ketika hujan turun berhari-hari, kemana air akan mengalir ke lapisan tanah? jika yang ada adalah semen, beton dan bangunan lainnya? Saya yakin sebesar apapun selokan yang dibuat oleh para kontraktor ini, tidak akan mampu menampung debet air dari langit…

Penahkah manusia yang melakukan pengerukan tanah di gunung berpikir, Apa yang akan terjadi ketika gunung dikeruk tanahnya? Bukankah kerusakan ekosistem alam yang besar? yang akan bermuara pada tanah longsor dll?

Apakah dengan mengeruk Gunung, menimbun sawah merupakan bentuk kesyukuran kita kepada Allah yang telah menciptakan itu semua untuk kita? BUKAN sama sekali. Melainkan PENGRUSAKAN terhadap ciptaan Allah itu sendiri. Jika ini terjadi, maka Indonesia takkan seelok lagu ini lagi. Bumi pertiwi akan selalu dirundung bencana dan malapetaka yang disebabkan oleh perbuatan manusia yang ada di dalamnya.

Mungkin sebagian dari pembaca menilai ini pemikiran kerdil.  Tetapi saya yakin suatu saat nanti Anda akan membenarkan apa yang saya tulis hari ini.

Advertisements

Tulis Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: